MEMBACA UNTUK MASA DEPAN (16 September 2017)

            Baca, baca, dan membaca! Seminggu berselang sejak tanggal 8 September 2017 yang merupakan Hari Literasi Internasional. Jarak 6 hari setelahnya, yaitu tanggal 14 September 2017, Presiden Jokowi meresmikan Perpustakaan Nasional tertinggi di dunia yang terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan. Hal tersebutlah yang menjadi alasan pengarah acara memilih tema pertemuan Jakarta Bahasa Toastmasters (“Jabat”) hari ini, “Membaca untuk Masa Depan”, dengan kata acuan “Buku”.

            Pengarah Acara kita pada di pertemuan kali ini adalah TM Panji, yang dibantu oleh Penilai Umum, TM Azka. Tim Penilai Umum terdiri dari TM Winda sebagai Pemerhati Tata Bahasa, TM Agus sebagai Pemerhati Bunyi Tanpa Makna, TM Verawati sebagai Pencatat Waktu, dan TM Dimas sebagai pengumpul kertas suara.

            Pertemuan kali ini dibagi menjadi 3 sesi, yaitu: sesi pidato yang dipersiapkan, sesi pidato dadakan, dan sesi penilaian umum. Terdapat sesuatu yang berbeda pada pertemuan Sabtu ini, yaitu 3 dari 3 pembicara membawakan proyek pidato pertamanya yang bertemakan mencairkan kekakuan, dan 2 dari 3 pembicara membawakan proyek pidatonya dengan menggunakan jalur pendidikan baru, yaitu sistem PATHWAYS. Hal ini berarti, Sabtu tanggal 16 September 2017 adalah pertama kalinya Jabat menggunakan sistem PATHWAYS!

            Pembicara pertama adalah TM Nelly yang membawakan pidato berjudul “Ketakutan yang berbahaya”. TM Nelly menceritakan tentang ketakutannya di masa batita untuk keluar rumah karena rasa takut yang ditanamkan oleh keluarga dan pengasuhnya. Ketakutan tersebut berlanjut sampai usia sekolah, yang menyebabkan TM Nelly tidak dapat bergaul dengan baik di sekolah. Mengetahui dampak tersebut, kedua orang tua TM Nelly mengubah pola pengasuhan dari menakuti-nakuti menjadi mengarahkan dan mulai mengajak TM Nelly bergaul dengan anak-anak di lingkungan rumah. Berkat perubahan tersebut TM Nelly mulai beradaptasi di sekolah. Terima kasih TM Nelly atas pengenalan yang begitu berharga dan hentikan menakut-nakuti anak kecil!

            Pembicara kedua adalah TM Hadi dengan pidatonya yang berjudul “Mencoba untuk Memulai”. TM Hadi adalah seorang lulusan SMUK 1 BPK Penabur, S1 dan S2 Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara, dengan hobi membaca dan bermain bulu tangkis, dan juga seorang pedagang saham dan manajer umum dari Perusahaan Sewa Menyewa Alat Berat. Toastmaster Hadi berniat berkuliah di luar negeri, namun ditentang oleh kedua orang tuanya. Buku non-fiksi pertama yang dibelinya selain buku pelajaran adalah “Being Happy” atau “Menjadi Bahagia”. Melalui buku tersebut, TM Hadi belajar bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan melainkan pola pikir, melalui buku yang sama, TM Hadi memperluas ruang lingkup bacaannya. Toastmaster Hadi berpesan supaya kita berani memulai untuk mencoba, salah satunya membaca buku, dan mencoba untuk memulai untuk meningkatkan kualitas diri kita!

            Pembicara ketiga adalah TM Welly dengan pidatonya yang berjudul “Menjadi Lebih Baik”. Toastmaster Welly membuka pidatonya dengan mengelus teko ajaib dan bertanya 3 permintaan kepada hadirin. TM Welly adalah seorang yang sulit berbicara di depan umum sebelum mengikuti Jabat. TM Welly bergabung ke Jabat karena suaminya. Setelah bergabung di Jabat Toastmaster Welly masih kesulitan berbicara di depan umum sampai Toastmaster Welly mengikuti acara Toastmaster Leadership Institute (TLI) yang seharusnya diikuti oleh pengurus. Di Acara tersebut TM Welly melihat bagaimana Presiden Jabat bersama para pengurus membuat program kerja untuk mengsukseskan jabat dan pendidikan para anggotanya! TM Welly dimasukkan ke dalam daftar anggota yang diwajibkan menyelesaikan jalur Pathways sampai ke tingkat 2. Melalui peran yang dipegangnya setiap minggu dan beberapa sesi pidato dadakan kemampuan berkomunikasi TM Welly meningkat dan TM Welly bertekad menyelesaikan jalur Pathways-nya. Satu kata-kata mutiara TM Welly yang terkesan unik dan menyemangati “Mencoba saja saya belum tentu tahu hasilnya apalagi tidak mencoba sama sekali!”

            Sesi berikutnya adalah sesi pidato dadakan yang dipandu oleh TM Hanni. Di sesi ini para pembicara dilatih untuk berpikir cepat dalam menjawab pertanyaan maupun memberikan pendapat terhadap suatu pernyataan. Sesi yang memberikan waktu 1-2 menit untuk setiap pesertanya diikuti oleh CTM Kevin, TM Dedy, CTM Yulius, TM Dimas, TM Wenny, CTM Ambar, dan TM Aji.

            Sesi  berikutnya adalah sesi penilaian umum. Di sesi ini Penilai Individu, Tim Penilai Individu, dan Penilai Umum memberikan penilaian masing-masing berdasarkan tugasnya. Penilai individu pada pertemuan kali ini adalah DTM Harlina yang menilai TM Nelly dan TM Welly, dan Fauzan, CC yang menilai TM Hadi.

            Setelah melewati 3 sesi, tentunya terdapat bagian yang paling mendebarkan yaitu panggung kehormatan. Di pertemuan kali ini TM Welly, TM Wenny, dan Fauzan, CC keluar sebagai pembicara favorit dari setiap sesi. Selamat untuk para pembicara favorit!

Kiri ke kanan: TM Welly, TM Wenny, Fauzan CC, CL, TM Winda, TM Dimas

Demikianlah pertemuan dengan kata acuan “Buku”. Pengarah Acara menutup pertemuan dengan pantun:

            “Pergi ke warung membeli merica, pulangnya dicegat preman dan ditodong senapan.

             Ayo Kawan rajin membaca, agar menjadi pemenang di masa depan!”

            Terima kasih untuk para pembicara yang telah membawakan pidato dengan sangat menarik dan para pemegang peran yang telah menjalankan tugasnya masing-masing dengan sangat baik. Berkat semuanya acara dapat berlangsung dengan kreatif dan inspiratif!

Foto bersama anggota dan tamu Jabat

 

Ditulis oleh: TM Wenny

Leave a Reply